Thursday, February 12, 2009

GRII Sydney | Artikel | 2009 02 22 | Gregorius Palamas(2)

Gregorius Palamas(2)
”Tuhan Dikenal Dalam Keheningan”

Sekalipun jiwa tidak dapat mendalami Allah, tetapi Allah dapat dikenal oleh pengalaman, yang bagi Gregorius – sama seperti bagi Simeon Teolog Baru – adalah bagian pokok dari teologi. Pengalaman itu tidak hanya bersedia bagi ahli mistik. Sekali lagi mengikuti contoh Simeon, Gregorius menyatakan bahwa semua orang Kristen mengambil bagian dalam kehidupan Allah melalui bagian dalam kehidupan Allah melalui sakramen-sakramen dan melalui doa. Partisipasi ini adalah pengenalan Allah yang sungguh-sungguh.

Akan tetapi bagaimana mungkin kita mempunyai pengetahuan mengenai Allah kalau Allah tidak dapat ditembus akal? Gregorius mencari jawab atas masalah ini dengan menggunakan pembedaan tradisional, yang berasal dari *Bapa-bapa Kapadokia. Allah tidak dapat dihampiri dalam hal hakikat-Nya, tetapi Ia dapat dihampiri dalam hal daya-daya-Nya. Kita tidak tahu atau dapat mengambil bagian dalam hakikat-nya, yaitu keadaan-Nya yang paling inti; tetapi kita dapat berpartisipasi dalam kekuatan-kekuatan-Nya, yaitu dalam kegiatan-kegiatan-Nya terhadap kita, dalam anugerah-Nya.

Karena kita dapat berpartisipasi dalam Allah dan oleh karena hakikat Allah yang paling inti adalah di luar partisipasi, maka ada sesuatu di antara hakikat [yang tidak dapat dipartisipasi] dan mereka yang berpartisipasi, agar mereka dimungkinkan untuk mengambil bagian dalam Allah ... Ia hadir dalam segala benda oleh manifestasi-Nya dan oleh daya-daya yang kreatif dan yang memelihara. Pokoknya, kita harus mencari Allah yang dapat dipartisipasi dengan cara apa pun sehingga dengan berpartisipasi masing-masing kita, dengan cara yang cocok baginya dan oleh analogi partisipasi, mendapat keberadaan, hidup serta menjadi ilahi (Triade 3:2:24)

Kita mengenal Allah khususnya melalui penglihatan terang ilahi yang tak diciptakan. Terang inilah yang dilihat para rasul pada saat Yesus berubah rupa (Mrk 9:2-8). Seorang pelaku mistik akan melihat terang ilahi ini – bukan terang yang diciptakan tetapi terang yang tak diciptakan, yaitu Allah sendiri. Demikianlah yang dilihat bukan hakikat Allah, tetapi daya-daya-Nya.

Gregorius dituduh menerima adanya dua Allah dengan membedakan antara hakikat Allah dan daya-daya-Nya. Sebenarnya Gregorius melihatnya sebagai dua ragam yang berbeda-beda dari kehadiran Allah, yakni di dalam kodrat-Nya dan di luarnya. Oleh Barlaam dan lain-lain Gregorius disebut penyesat. Tuduhan ini dijawabnya dengan memenangkan dukungan dari sinode rahib-rahib di Gunung Athos, Beberapa sinode di Constantinopel pada tahun 1341 menolak tuduhan Barlaam, namun kemudian pada tahun itu terjadi kudeta yang mengubah situasi politik. Beberapa tahun lamanya Gregorius tidak disukai. Pada sinode-sinode yang kemudian ia dikutuk, malahan pada tahun 1344 ia dikeluarkan dari persekutuan Gereja atau: diekskomunikasikan. Tetapi pada tahun 1347 kaisar yang baru berkuasa dan ia menyenangi Gregorius, lalu dia diangkat menjadi uskup di Tesalonika. Pada tahun 1351 konsili dipanggil lagi di Constantinopel, yang membebaskan Gregorius dari segala tuduhan dan kemudian menghasilkan suatu Keputusan, yang menguraikan pemikiran-pemikiran Gregorius yang terpenting. Konsili tersebut bukan konsili oikumenis, tetapi keputusan-keputusannya diterima oleh semua Gereja Ortodoks Timur dalam abad ke-14. Gregorius meninggal pada tahun 1359 dan pada tahun 1368 ia dinyatakan orang santo.

Sumber: Runtut Pijar (Cet. 2, 1993) oleh Tony Lane, diterjemahkan oleh Conny Item, diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia.

No comments:

Post a Comment