Gregorius Palamas(1)
”Tuhan Dikenal Dalam Keheningan”
Gregorius lahir pada akhir abad ke-13. Pada tahun 1318 ia pergi ke Gunung Athos, pusat kebiaran Gereja Ortodoks, untuk menjadi rahib. Ia berkembang pesat dalam hidup berdoa sebab ia diajar plej penganut-penganut Hesikhasme. Kemudian ia tinggalkan Gunung Athos untuk sementara karena ada penyerbuan-penyerbuan oleh orang Turki, tetapi ia kembali lagi. Pada tahun 1330-an ia terlibat dalam pertikaian dengan Barlaam, rahib Ortodoks dari Italia Selatan, yang telang menyerang Hesikhasme.
Gregorius dikenal sebagai pembicara utama dari teologi Hiskhasme. Kata ini diturunkan dari kata Yunani hesykhia (keheningan, kesepian, istirahat). Hesikhasme adalah tradisi spiritiual yang bermula dari zaman gereja purba, akan tetapi baru mendapat bentuk yang khas tak lama sevelum zaman Gregorius. Tujuannya ialah mencapai kemenangan atas nafsu-nafsu dan dengan demikian sampai pada keheningan batin (hesykhia), agar dapat menuju pada perenungan akan Allah. Hesikhasme menekankan meditasi secara diam dengan posisi badan tertentu ya dianjurkan untuk membantu konsentrasi, sebagai berikut: dagu menemperl ke badan dan mata ditujukan pada pisar, tempat letak jantung. Pernafasan diatur dan doa sederhana diucapkan, yaitu Doa Yesus: ”Tuhan Yesus Kristus, Anak Allah, kasihinilah aku”. Ini tidak berarti bahwa para penganut Hesikhasme menganggap doa itu sebagai teknik yang mekanis. Cara ini hanya dianjurkan sebagai pembantu dalam mempersiapkan diri menuju perkembangan yang lebih lanjut. Tujuannya ialah mencapai penglihatan dari terang ilahi dan penyatuan dengan Allah.
Barlaan menyerang Gregorius berkenaan dengan beberapa hal. Ia mencemoohkan cara berdoa Hesikhasme, khususnya posisi badan pada waktu berdoa. Barlaam menganut cara pengetahuan yang negatif yang diajarkan *Dionysius orang Aeropagus, yaitu bahawa Allah tidak dapat dikenal secara langsung, tetapi hanya secara tidak langsung melalui sarana sarana yang diciptakan. Hubungan Barlaam dengan Gregorius mirip dengan hubungan Stefanus dengan *Simeon Teolog Baru, karena Barlaam juga ingin memberikan Gregorius tidak menyetujuinya. Sikap Barlaam dalam hal ini menunjukkan persamaan dengen beberapa pendekatan di Barat, sehingga akhirnya ia menjadi Katolik-Roma.
Gregorius menjawab Barlaam dalam karnyanya Triade-triade: Tiga Alasan demi Membela Penganut Hesikhasme yang Kudus. Ia menyatakan bahwa Allah dapat dikenal secara langsung. Tetapi bagaimana ini bisa terjadim sebab teologi ”apofatis” atau cara negatif itu mengajarkan bahwa Allah melebihi segala pengetahuan? Gregorius mengakui bahwa memang dalam hal ini terdapat paradoks. Ia mengatakan bahwa kodrat ilahi di satu pihak dapat diberitakan atau diperkenalkan kepada manusia, tetapi di pihak lain ini tidak mungkin. Kita mempunyai bagian kodrat Allah, namun toh Ia tidak dapat dihampiri. Gregorius tidak sudi membiarkan teologi negatif mendapat kemenangan terakhir.
Kesan yang dibuat pada jiwa kita oleh Roh, dengan tanda-tanda ilahi dan ajaib, sangat berbeda dengan teologi apofatis ... perbedaan jauh sekali antara teologi dan penglihatan dari Allah dalam terang, begitu pula terdapat perbedaan jauh antara teologi dan percakapan mesra dengan Allah: sejauh perbedaan antara pengetahuan dan pemilikan (Triade 1:3;42)
Sumber: Runtut Pijar (Cet. 2, 1993) oleh Tony Lane, diterjemahkan oleh Conny Item, diterbitkan oleh BPK Gunung Mulia.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment